Wednesday, April 11, 2012
There’s Nothing More Fun than Being at The Top
Saturday, March 17, 2012
Het Trein Station te Toentang
![]() |
| Toentang Train Station from the North Sides in 1910-1915 (Source: Leiden University Library) |
![]() |
| Toentang Train Station rear terrace as arrival and departure boards |
Here in this station that now were no longer crowded by the passenger for waiting for the train coming by. I felt the power of interactions on that time between the people in countryside with those on the city. Once, the development of railroad network have its purpose to fulfilling the needs of the people about transportation, also as an efforts to the better economic growth. Along the area which passed by railroad network, the people used this “metal horses” as their daily transport. Furthermore, in many small station or halte located, the people from the countryside often exploit it as their means to sold their product, the traders came from the countryside offering their product, dominated by agricultural products, and those from the city are also came with their product, dominated by factory product like clothes, shoes, and so on. The station once become the important place for the rural and urban people to interact.
Sunday, February 26, 2012
Diskriminasi Dalam Penataan Kota

Mari telusuri keberadaan ruang-ruang publik di kota kita tercinta, Semarang. Dari yang terdekat dari rumah saya yang berada dibilangan Sendangmulyo, Semarang Timur, masih terbilang lumayan baik karena masih terdapat lapangan-lapangan terbuka, namun yang memprihatinkan adalah semakin sedikit masyarakat menggunakannya untuk beraktifitas. Walhasil hanyalah sebuah tanah lapang yang dipandang para developer sebagai lahan kosong. Kompleks perumahanpun dibangun secara masif, dan telah mendesak gaya hidup menjadi kampung yang egaliter. Bahkan kini muncul konsep kluster, perumahan di dalam perumahan. Artinya penyekatan semakin mengecil. Masyarakat semakin nyaman hidup dalam keterasingan dengan dalih keamanan dan lingkungan pergaulan. Semakin banyak orang tua yang tak mengizinkan anak-anak mereka keluar rumah. Menyebabkan anak menjadi terpenjara. Dunia anak dan mungkin juga orangtuanya menjadi hanya sebatas pagar rumah masing-masing.
Dari ruang rumah yang memenjara, mari kita tengok ke sekolah. Kita tengok tren, sekali lagi di kota kita tercinta, Semarang, yakni semakin maraknya sekolah-sekolah internasional. Jaminan pendidikan yang berbasis internasional, jelas tersedia. Menjadikan anak-anak berwawasan global, itu sudah barang tentu, namun adakah rasa nasionalisme, kearfian lokal dan kepekaan sosial yang dipupuk didalamnya? Saya rasa tidak ada di sekolah yang notabene berbiaya selangit ini. Salah seorang kawan yang adiknya bersekolah di salah satu sekolah internasional terkemuka di Semarang menuturkan bahwa, tidak pernah diajarkan mata pelajaran Bahasa Jawa, dan pelaksanaan upacara bendera pun hanya setahun sekali, tepat saat peringatan kemerdekaan RI, pada tanggal 17 Agustus. Menyedihkan, sungguh.
Setelah sekolah, mari kita beranjak ke tempat yang acap kali menjadi ruang publik masyarakat Semarang, apalagi kalau bukan pusat perbelanjaan atau Mall. Semakin menjamurnya pusat perbelanjaan memang secara makro menjadi indikator pesatnya pertumbuhan ekonomi kota, namun juga menjadi sebuah fenomena, semakin terkotak-kotaknya kehidupan kaum berada dan kaum tidak mampu. Coba anda datangi pusat-pusat perbelanjaan terkemuka di kota ini , saya yakin, tidak akan dijumpai masyarakat dari kalangan menengah kebawah. Ini kan ruang publik baru? Aksesibilitasnya kan mudah? Oh jelas, namun pernahkah anda membayangkan bahwasannya mereka di ruang itu hanyalah sebagai saksi, tanpa bisa menikmati, geliat pertumbuhan ekonomi kota besar? Itulah yang terjadi, lama-lama mereka jenuh dan dengan sendirinya akan menghindari datang ke tempat dimana setiap orang merelakan dirinya untuk dimonopoli oleh brand-brand terkemuka, tanpa ada kemampuan sebagai price maker.
Ulasan di harian Kompas menyebutkan, ketiadaan ruang publik yang menjembatani pertemuan antarkelas sosial menyebabkan masyarakat tumbuh dalam dunia yang menyempit. Mereka hanya bersinggungan dengan dunia dari kelas berbeda melalui dunia maya, seperti melalui film atau tayangan televisi, atau paling banter melalui jendela kaca mobil saat menyaksikan anak-anak yang meminta-minta di lampu merah. Tentu saja, nuansa yang tertangkap akan sangat berbeda.
Mereka melihat kemiskinan dan kekumuhan hanya sebagai sesuatu yang patut dihilangkan, tetapi abai terhadap akar masalah kesenjangan, yaitu minimnya celah transformasi ekonomi dan sosial. Semua ini, bisa jadi, bermuara pada tiadanya ruang publik untuk berinteraksi secara manusiawi dengan sesamanya.
Masyarakat kota Semarang telah lama rindu memiliki pilihan ruang publik yang beragam. Masyarakat rindu memiliki taman Makam Dowo yang kini telah berubah menjadi kawasan perumahan elite dibilangan Siranda. Rindu menikmati panorama Semarang dari kawasan Gombel secara cuma-cuma, melalui taman yang ada disekitaran tugu Tabanas yang kini telah berubah menjadi tempat hiburan yang untuk menikmatinya kita harus merogoh kocek terlebih dahulu. Wahai Bapak Walikota, sungguh kami rindu.
Wednesday, February 22, 2012
Daripada Melawan, Alangkah Baiknya Menyesuaikan
Semarang itu “stuck”! Semarang itu “gak berkembang”! Semarang itu “ngene2 wae”! Hampir seluruh “cah semarang” dari latar belakang berbeda yang berkumpul dan berdiskusi terkait keberlanjutan dari gerakanSemarang Obah atau yg biasa dikenal melalui tagar di twitter #SMGobah memiliki pandangan yang sama atas kota yang berjuluk kota ATLAS ini. Bermacam komunitas dan profesi mulai dari komunitas musik, komunitas online dan organisasi independen, berkumpul menjadi satu di Buket Koffee Jazz di bilangan Tembalang, Semarang, bersama-sama membulatkan tekad untuk berkontribusi pada kota Se Kota Semarang yang masih menghadapi problematika krisis identitas, menjadikan masyarakatnya apatis, bahkan cenderung tidak bangga menjadi seorang penduduk Semarang.
“Kota Semarang itu sejak pendiriannya telah di set sebagai kota niaga, mana ada orang asli Semarang, semuanya pendatang yang mengadu nasib di kota ini”, ujar Mas Gatot, aktivis penggiat musik Jazz kota Semarang. “Itulah akhirnya yang membuat budaya bahkan kuliner yang ada di kota ini itu merupakan bentuk akulturasi dari berbagai budaya”, sambung pria yang memiliki nama lengkap Gatot Hendraputra ini. Menjadi sebuah kota yang dilatarbelakangi motif niaga menjadikan masyarakat yang ada memiliki sikap segala aktivitas yang mereka lakukan atau mereka dukung haruslah memiliki keuntungan yang kembali kepada pribadi mereka masing-masing. Untungnya buat saya itu apa? Itulah salah satu sikap yang dimiliki oleh masyarakat dari kota niaga, yang umumnya berada di kawasan pesisir. Lain halnya dengan kota-kota di kawasan tengah yang berlatar agraris dengan konsep “mangan ora mangan penting kumpul” nya, mereka secara solidaritas kebudayaan lebih kuat.
Melawan kultur yang telah mengakar itu bukan perkara mudah. Mustahil bisa merubah sesuatu yang telah menjadi cirri khas/ watak. Maka dari itu melalui gerakan #SMGobah, diharapkan kultur yang memang selalu sibuk dengan urusannya masing-masing ini, yang kini implementasinya adalah bermunculannya beragam komunitas, hendaknya didasari oleh keinginan untuk mengangkat potensi yang dimiliki oleh Semarang. Saling mendukung dan meramaikan satu sama yang lain, merupakan suatu wujud nyata yang sederhana untuk membuat kota ini lebih berwarna. Namun, menurut Mas Yudi, salah satu penggiat komunitas online di kota Semarang, untuk melangkah diperlukan sebuah upaya yang simple namun terkadang berat sesuai dengan pernyataan, “diperlukan sebuah kerendahan hati, dan menyingkirkan prasangka-prasangka buruk yang ada”. Selamat melangkah dan bersinergi para pemuda!


